29 November 2025
Tidak semua orang punya kesempatan mengatakan, “Pekerjaan saya ikut menghubungkan pulau-pulau di Indonesia.” Namun, kalimat itu sangat relevan bagi mereka yang bekerja di industri pelayaran dan logistik. Di balik layar, para pekerja di kantor, pelabuhan, dan atas kapal punya peran penting dalam memastikan barang bergerak dari satu titik ke titik lain, dari satu pulau ke pulau lainnya.
Bagi banyak anak muda, alasan memilih industri pelayaran bukan hanya soal gaji atau stabilitas. Ada rasa bangga ketika mereka menyadari bahwa apa yang mereka kerjakan setiap hari benar-benar berdampak pada kehidupan banyak orang. Setiap kontainer yang tiba tepat waktu bisa berarti toko tidak kehabisan stok, UMKM tetap bisa mengirim pesanan, dan masyarakat di daerah tetap mendapat akses kebutuhan pokok.
Perusahaan seperti PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) membawa misi Connecting Island dalam setiap operasinya. Pekerja di dalamnya tahu bahwa mereka bukan hanya mengurus kapal dan kontainer, tetapi juga menghubungkan rantai ekonomi antarwilayah. Rute-rute pelayaran yang menjangkau berbagai pulau membantu menghidupkan aktivitas perdagangan di kota besar, kota kecil, hingga daerah yang jauh dari pusat.
Bagi karyawan, rasa bangga itu muncul dari hal-hal sederhana sehari-hari. Misalnya, ketika melihat laporan bahwa kapal berangkat tepat waktu setelah persiapan yang padat. Atau saat mengetahui bahwa pengiriman pelanggan yang semula terancam terlambat akhirnya bisa tiba sesuai jadwal karena koordinasi tim yang solid. Momen-momen seperti itu menjadi sumber motivasi tersendiri.
Digitalisasi juga membuat kebanggaan itu terasa lebih nyata. Melalui platform MySPIL Reloaded, tim internal bisa melihat bagaimana data booking, tracking, dan status pengiriman bergerak secara real-time. Mereka bisa memantau bahwa kiriman pelanggan yang berangkat dari satu pelabuhan benar-benar sedang menuju pelabuhan lain, dan pelanggan bisa mengikutinya dengan mudah. Semua ini adalah hasil kerja bersama antara tim digital, operasional, layanan pelanggan, dan banyak peran lainnya.
Di sisi lain, lingkungan kerja di industri pelayaran kini semakin modern dan inklusif. Generasi muda tidak lagi melihat sektor ini sebagai “dunia lama” yang kaku. Mereka menemukan ruang untuk tumbuh, berpendapat, dan berkontribusi. Program pengembangan seperti SPIL University memberi mereka kesempatan belajar lebih dalam tentang logistik, teknologi, hingga kepemimpinan.
Rasa bangga juga datang dari skala tanggung jawab yang mereka pegang. Meski mungkin posisi masih junior, banyak pekerja muda yang mengelola data rute pengiriman, menjawab kebutuhan pelanggan penting, atau terlibat dalam koordinasi antar cabang di berbagai kota. Mereka menyadari bahwa keputusan yang mereka ambil bisa berpengaruh pada kelancaran distribusi di beberapa daerah sekaligus.
Tentu, tantangan tetap ada. Dunia pelayaran tidak lepas dari tekanan waktu, dinamika cuaca, dan perubahan mendadak dari permintaan pelanggan. Tapi justru di situlah rasa kepemilikan (ownership) terbentuk. Ketika masalah bisa dihadapi dan diselesaikan bersama, kebanggaan terhadap pekerjaan tumbuh semakin kuat.
Pada akhirnya, bekerja di industri pelayaran dan logistik bukan hanya tentang “mengantar barang dari titik A ke titik B”. Ini tentang menjadi bagian dari sistem besar yang menyambungkan banyak kehidupan, banyak usaha, dan banyak harapan di berbagai pulau. Dan bagi mereka yang menjadikannya jalan karier, rasa bangga itu bukan sekadar slogan, tetapi sesuatu yang mereka rasakan setiap kali melihat kapal berlayar dan kontainer bergerak.
Tags














