29 November 2025
Permintaan terhadap pengiriman produk segar seperti hasil laut, buah, sayuran, hingga farmasi meningkat pesat sepanjang 2025. Kondisi ini membuat keberadaan reefer container atau kontainer berpendingin menjadi semakin vital dalam menjaga kualitas barang dari titik asal hingga sampai ke pelanggan. Di tengah pertumbuhan e-commerce makanan segar dan ekspor komoditas laut, industri pelayaran memperkuat kapasitas rantai dingin untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Reefer container bekerja dengan menjaga suhu stabil antara -25°C hingga suhu dingin tertentu yang disesuaikan dengan jenis barang. Fitur ini membuat produk tetap segar meski harus dikirim melalui jalur laut yang memakan waktu beberapa hari. Perusahaan pelayaran seperti PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) menjadi bagian penting dalam mendukung distribusi cold chain di Indonesia.
Dengan jaringan rute yang luas serta visi Connecting Island, SPIL memastikan reefer container dapat menjangkau lebih banyak wilayah, tidak hanya kota besar tetapi juga daerah produsen seperti Ambon, Ternate, Bitung, dan Kupang. Dengan pengiriman yang lebih teratur, hasil panen lokal dan produk perikanan dapat memasuki pasar yang lebih besar di Jawa maupun Sumatera.
Digitalisasi juga memainkan peran penting dalam pengelolaan reefer container. Melalui MySPIL Reloaded, pelanggan dapat memantau status kontainer, estimasi waktu tiba kapal, serta memastikan pengiriman berada dalam jalur yang aman. Transparansi data suhu menjadi bagian penting bagi pelaku bisnis yang ingin memastikan kualitas produk tetap prima.
Namun tantangan tetap ada, seperti kebutuhan daya listrik yang besar di pelabuhan serta kesiapan SDM dalam menangani barang berpendingin. Untuk itu, kolaborasi kuat antara perusahaan pelayaran, pelabuhan, dan distributor menjadi kunci keberhasilan rantai dingin nasional. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, Indonesia siap menjadi negara dengan jaringan cold chain yang kuat dan kompetitif.
Tags














